Hikmah Berkurban di Hari Raya Idul Adha

Jul 19, 2022

Perintah berkurban telah diturunkan sejak zaman Nabi Adam, yaitu ketika Qabil dan Habil berselisih karena ingin menikahi saudaranya, Iklimah. Maka, sebelum kita menyimpulkan apa saja hikmah berkurban, terlebih dahulu mari kita simak kisah Habi dan Qabil berikut.

"Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putra Adam (Qabil dan Habil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan kurban, maka diterima dari salah seorang mereka berdua (Habil) dan tidak diterima yang lain (Qabil)." (QS. Al-Maidah: 27)

Sebab dari pertikaian antara Habil dan Qabil memperebutkan Iklimah, Allah memerintahkan keduanya untuk berkurban. Barang siapa yang kurbannya diterima, maka dialah yang berhak menikahi Iklimah.

Habil yang merupakan seorang peternak domba pun mempersembahkan domba terbaiknya, dengan dasar ketakwaan. Sedangkan Qabil yang menekuni pekerjaan sebagai seorang petani, berdasarkan kedengkiannya, dia mempersembahkan seikat gandum berkualitas buruk.

Pada akhir kisah disebutkan bahwa kurban yang diterima Allah SWT adalah yang didasarkan atas ketakwaan, yaitu kurban yang dipersembahkan oleh Habil.

Sebagaimana kisah lain yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim, dari Ibnu Juraij bahwa dahulu penduduk Jahiliyyah melumurkan daging dan darah kurban ke Baitullah. Kemudian para sahabat menjawab, “kami lebih berhak untuk melumurkannya.”

Hingga akhirnya Allah menurunkan ayat, "Daging-daging unta dan darahnya itu sekali kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya." (QS. QS. Al-Hajj: 37)

Kedua kisah tersebut mengandung beberapa hikmah berkurban, antara lain:

1. Ikhlas dalam melakukan ibadah, termasuk ibadah kurban. Bukan untuk berbangga ataupun riya, namun hanya berharap rida Allah semata.

2. Meraih Ketakwaan. Sebab kurban merupakan salah satu cara kita sebagai umat Islam dalam mendekatkan diri kepada Allah SWT.

3. Sebagai Syiar Islam. Sebagaimana tercantum dalam firman Allah SWT:

“Dan unta-unta itu Kami jadikan untukmu bagian dari syi’ar agama Allah, kamu banyak memperoleh kebaikan padanya. Maka sebutlah nama Allah (ketika kamu akan menyembelihnya) dalam keadaan berdiri (dan kaki-kaki telah terikat). Kemudian apabila telah rebah (mati), maka makanlah sebagiannya dan berilah makan orang merasa cukup dengan apa yang ada padanya (tidak meminta-minta) dan orang yang meminta. Demikianlah kami tundukkan (unta-unta itu) untukmu, agar kamu bersyukur.” (Q.S. Al-Hajj : 36).

4. Pahala kebaikan berkurban lebih baik dibandingkan sedekah dengan nominal senilai hewan kurban.

“Penyembelihan yang dilakukan di waktu mulia lebih afdhol daripada sedekah senilai penyembelihan tersebut. Oleh karenanya jika seseorang bersedekah untuk menggantikan kewajiban penyembelihan pada manasik tamattu’ dan qiron meskipun dengan sedekah yang bernilai berlipat ganda, tentu tidak bisa menyamai keutamaan qurban.” (Talkhish Kitab Ahkamil Udhiyah wadz Dzakaah, hal. 11-12 dan Shahih Fiqh Sunnah, 2: 379).

MasyaaAllah, betapa luar biasanya hikmah dari pelaksanaan Kurban bagi umat muslim. Oleh karenanya, mari kita persiapkan kurban terbaik dengan segenap ketakwaan yang hanya mengharap ridha dari Allah semata.